RSUD SIDOARJO, jam 17.40:
Angin panas yang berhembus siang tadi sudah berubah lebih ramah, persis calon mertua ketika anaknya dilamar. (itu kalo mertuanya setuju lho yaa, jangan protes teruus dong, lagi nulis nih). Aku masih terpasung di koridor rumah sakit. kalo hampir sepanjang siang tadi aku hanya berkumpul dengan para lelaki dan wanita dengan kening mengkerut saat menunggu istri atau kerabatnya melahirkan, kali ini aku ditemani kakak iparku. Degup dalam jantungku hanya mampu melafadz doa-doa dan permohonan kepada yang kuasa, sedangkan di bilik jantungku yang lain tetap terus mengumpat dan menyerapahi si cantik genit preclampsia dan sepupunya albumin dan keponakannya si kegatalan tensi tinggi.
Aku masih mematut-matut diri sesekali kutatap speaker TOA di sudut atas koridor dibawah talang. Butut dengan suara nya serak kayak orang kena TBC, putus nyambung dan ngorok. " keluarga pasien Wihastuty Farida, dimohon ke ruang perawat", tanpa lama ketika nama istriku disebut dan tanpa diulang aku langsung lari menuju sumber suara dari TOA di ruang perawat. Oooh, rupanya si suster cantik itu tho pemilik suara barusan." bapak suami ibu farida ", tanyanya. " begini pak ibu farida sudah hampir melahirkan, tolong bawakan handuk dan kain panjang ya pak". wah ramah juga tuh suster. sudah ramah cantik, apa lagi yaaa...coba kalau semua suster di semua rumah sakit negeri ini semua cantik dan ramah-ramah, apa pasien makin cepet sembuh. Atau jangan-jangan makin kerasan di rumah sakit.
masih di ruang perawat, mencoba melongok untuk sekedar mencari wajah istriku disela-sela ketiak perawat dan dokter yang membantu persalinan. " lho, ndak usah ngintip pak, bawa sini aja handuk dan kain panjangny, udah mau lahir kok", lagi-lagi suara suster cantik. (suster makasyeh, tapi maaf aku melupakan namamu). Benar saja waktu aku sampai di koridor rumah sakit untuk mengambil barang pesanan suster tadi, lamat-lamat aku mendengar suara tangisan bayi. itu berarti tangisannya keras, hati kecilku bilang itu pasti tangisan bayi laki-lakiku. Kembali keruang perawat, kuserahkan kain panjang dan handuk kepada perawat cantik. " pak, selamat bayinya sudah lahir, laki-laki sehat, ibunya juga sehat, anak yang keberapa pak", suster cantik nyerocos mencoba lebih akrab dengan ku. Alahamdulillah, segala puji bagimu ya Allah. Oooh anak yang pertama suster, terima kasih. " dikasih nama siapa pak putranya", tanya suster yang lain. Adzan maghrib baru saja usai, kakak iparku masih sholat di masjid rumah sakit.
Waktu masih dalam kandungan, aku memperkenalkan nama anakku pada bundanya, Bhre Rhedana Lintang Revolusi. Bundanya setuju saja, malah lebih senang memanggil bayi dalam kandungannya dengan nama depan Bhre.Jam dinding di ruang perawat menunjukan waktu jam enam lebih seperempat, petang hari. "Namanya Bhre lengkapnya Bhre Rhedana al Maghriby Lintang Revolusi", aku menjawab pertanyaan suster. "Lho panjangnya", suster yang lain turut menilai nama anakku. sambil tersenyum ku dekati bayiku di kereta dorong. sedang tidur rupanya ia. aku angkat dia, sejenak kupandang, mirip siapa yaa, aku nggak mirip tuh, bundanya ngggak juga, oomnya kali yaa. Masih dalam dekapanku si mungil juniorku, kudekatkan bibirku ditelinga kanan untuk menyerukan adzan. Aku sedikit tersentak, dalam bayanganku bayi yang baru saja dilahirkan pasti matanya masih merem. lho ini kok malah melek, malah mencari cari suara adzan yang aku dengungkan. selesai adzan kudengungkan sikecilku merem lagi. ku kembalikan dia ke kereta dorong untuk dipindah keruang perawatan bayi, sedangkan aku harus kembali keloket pendaftaran untuk administrasi pendaftarannya.
Istriku masih di ruang bersalin, aku juga masih belum bisa melihat wajahnya. kutanya suster katanya dia sedang tidur setelah di bersihkan. barangkali kecapekan setelah berjuang keras menyambut kedatangan pangeran kecilku.Baru besok siangnya aku di perbolehkan ketemu istriku sekaligus untuk mengantarkan pindah keruang perawatan. tiga hari diruang perawatan, setiap jam 11.00 dan jam 16.00 mengantarkannya keruang perawatan bayi untuk memberikan asi. Hari kelima di rumah sakit aku harus kemabali berurusan dengan bagian administrasi. weee lhah dalah begitu nama istriku disebut ternyata aku nggak perlu bayar, terimakasih Tuhan. Begitu juga ketika mengurus kepulangan anakku sama juga nggak bayar. lho kok bisa !!! begini kawan, ternyata istriku di jamin askes. Bodohnya aku dan tidak perhatiannya aku. Istriku pegawai negeri sipil kabupaten dengan golongan IIIa, melahirkan di ruang VK bersalin, dan perawatan di ruang kelas II jadi nggak perlu bayar deh.Aman satu jalan telah terlewati, nggak punya hutang. hehhehe.....udah dulu yaaa...
Monday, March 23, 2009
SUSTER CANTIK
Posted by
Rully Hermanto
at
3:22 PM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment